Berawal darimana dasar saya melakukan ini saya tidak tahu namun ini sudah saya lakukan sejak sekolah SMP. Setiap kali saya melihat orang yang lebih khusuk ibadahnya,lebih dalam ilmunya, lebih baik penampilannya, lebih mudah dalam mencari harta, lebih tinggi derajat pangkatnya, lebih beruntung dan semua yang memilki nasib sebalilknya saya kirim doa terutama Al-fatekhah.
Pengiriman fatekhah ini saya anggap sebagai sebuah keinginan terhadap diri sendiri maupun tulus ikhlas mendoakan yang bersangkutan.
Saya teringat ajaran dari guru madrasah saya dulu bahwa bila kita mendoakan seseorang maka kita akan ikut kena imbasnya walau sedikit kemudian sang guru menganalogikan seperti secangkir mangkok yang terisi air, kita umpamakan bahwa air ini adalah sekumpulan nikmat yang diberikan Tuhan kepada "si Dia" yang kita doakan kemudian dengan doa yang kita panjatkan itu akan melebihkan isi air tersebut yang lama kelamaan akan meluber, nah…luberannya itulah kemudian tumpah dan ikut membasahi (nyiprat) kita juga yang maksudnya kita ikut kecipratan atas anugrah lebih yang Tuhan berikan kepada yang kita doakan tadi.
Analogi diatas masuk logika awam tetapi dalam hal urusan agama kata ustad tidak cukup hanya sekedar logika tapi harus diperkuat juga dengan dalil dan sedikit dalil itu :
1.Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hasyr: 10)
2.Wahai Rabb kami, beri ampunilah aku dan kedua ibu bapaku dan semua orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS. Ibrahim: 41)
3.Wahai Rabbku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke dalam rumahku dalam keadaan beriman, dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan.” (QS. Nuh: 28) dll.
Terlepas semua dasar itu kita akan lebih mawas diri, tidak sombong, tidak cepat lupa akan anugrah ilahi, tidak iri hati dan dengki sehingga kita bisa terlepas dari penyakit2 hati.
Ini adalah sebuah kisah nyata yang dalam seharian saya berpikir ttg diri saya sendiri:Kemarin tanggal 6 Nov 2011 aku ketemu teman satu angkatan yang mana disitu dalam hal materi mungkin sampai pensiun secara itungan matematika aku tidak bisa mencapai akan pencapaian materi yang sudah diraih oleh rekan satu liteng itu, sebagai gambaran kalau gaji yang aku terima dihitung sampe pensiun usia 58 dengan gaji utuh tanpa terpotong sedikitpun dikalikan sisa masa kerja maka tidak akan mencapai sekali infaq yang ia keluarkan….heeemmmmmmmmm……kemudian karena hal itu aku introspeksi diri bahwa yang bisa aku lakukan hanyalah mendoakannya.
Terpujilah Engakau Ya Tuhan…..Amiin.